
Harga Minyak Bumi Oktober 2026: Brent di Atas US$100, WTI Stabil di US$90
Harga minyak bumi masih menjadi salah satu topik paling panas di pasar global. Memasuki Oktober 2026, harga minyak mentah Brent masih bertahan di atas level US$100 per barel**, sementara West Texas Intermediate (WTI) stabil di kisaran **US$90 per barel.
Pada Selasa, 7 Oktober 2026, harga Brent diperdagangkan di level US$100,06 per barel**, naik tipis 4 sen. Sementara WTI berada di **US$89,75 per barel, naik 25 sen. Pergerakan ini terbilang stabil setelah beberapa pekan sebelumnya sempat bergejolak.
Brent Bertahan di Atas US$100
Sejak awal Oktober, Brent memang cenderung bertahan di atas level psikologis US$100. Pada 1 Oktober, Brent bahkan diperdagangkan di level **US$100,09 per barel**, naik 2,1 persen atau US$2,06 dibandingkan penutupan sebelumnya. Meskipun ada fluktuasi harian, level US$100 tampaknya menjadi titik keseimbangan baru untuk sementara ini.
Analis dari RTBF menyebutkan bahwa pertanyaan yang paling sering muncul adalah mengapa harga minyak tetap bertahan di sekitar US$100? Jawabannya tidak sederhana. Ada kombinasi antara ketegangan geopolitik, kebijakan pasokan, dan permintaan global yang masih solid.
WTI Stabil di Kisaran US$90
Di sisi lain, WTI diperdagangkan di level US$89,75 per barel** pada 7 Oktober, naik tipis dari sesi sebelumnya. Pada 5 Oktober, WTI sempat menyentuh **US$90,49 per barel, turun 62 sen atau 0,68 persen.
Selisih antara Brent dan WTI memang cukup lebar, sekitar US$10 per barel. Ini bukan hal yang tidak biasa, mengingat Brent adalah acuan untuk minyak mentah internasional, sementara WTI lebih mencerminkan kondisi pasar Amerika Serikat.
Faktor yang Memengaruhi Harga
Ada beberapa faktor utama yang membuat harga minyak tetap tinggi dalam beberapa pekan terakhir.
Pertama, ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang masih berlangsung di kawasan tersebut membuat pasar khawatir terhadap potensi gangguan pasokan. Serangan terhadap infrastruktur minyak di kawasan Teluk sempat membuat harga melonjak.
Kedua, kebijakan G7. Pada 2 Oktober, negara-negara G7 sepakat untuk melepaskan 100 juta barel minyak dari cadangan strategis mereka untuk menstabilkan pasar. Langkah ini sempat menekan harga, tapi dampaknya tidak bertahan lama.
Ketiga, pemulihan ekspor dari Arab Saudi. Menteri Energi Saudi Arabia, Pangeran Abdulaziz bin Salman, menyatakan bahwa sekitar 5,8 juta barel minyak per hari telah dipompa melalui pipa Timur-Barat untuk mempertahankan ekspor di tengah risiko transportasi di kawasan Teluk.
Keempat, situasi Rusia-Ukraina. Sanksi terhadap energi Rusia telah membatasi pasokan global sejak konflik dimulai pada 2022. Jika ada tanda-tanda perdamaian, harga minyak bisa tertekan karena ekspor Rusia berpotensi pulih.
Dampak bagi Indonesia
Bagi Indonesia, harga minyak yang tinggi memiliki dua sisi. Di satu sisi, ini menguntungkan bagi penerimaan negara dari sektor migas. Tapi di sisi lain, subsidi energi dan beban APBN bisa membengkak. BeritaSatu melaporkan bahwa kenaikan harga minyak bisa menambah defisit APBN hingga Rp6,8 triliun.
Harga minyak yang tinggi juga berdampak pada harga BBM di dalam negeri. Pada periode 1 Oktober 2026, harga Pertalite naik 172 rupiah per liter menjadi Rp8.000 per liter, sementara Pertamax naik 102 rupiah menjadi Rp12.500 per liter.
Proyeksi ke Depan
Untuk beberapa waktu ke depan, harga minyak diproyeksi masih akan bertahan di level tinggi. Faktor geopolitik masih menjadi penentu utama. Jika ketegangan di Timur Tengah mereda dan pasokan global pulih, harga bisa turun. Tapi jika eskalasi meningkat, bukan tidak mungkin Brent akan kembali menyentuh level tertinggi tahun ini.
Yang jelas, harga minyak bumi tetap menjadi salah satu indikator paling penting dalam perekonomian global. Dan untuk saat ini, level US$100 per barel tampaknya masih menjadi titik acuan yang sulit dilepaskan.