
Arab Saudi vs UEA 2-0: Juara Piala Teluk, Akhiri Penantian 22 Tahun
Malam itu, King Abdullah Sports City Stadium di Jeddah bukan sekadar stadion. Ia menjadi panggung bagi sebuah penantian yang akhirnya berakhir. Arab Saudi vs UEA di final Piala Teluk ke-27 bukan hanya tentang trofi. Ini tentang 22 tahun rasa haus yang akhirnya terpuaskan.
Skor akhir 2-0 untuk Arab Saudi. Tapi angka itu tidak pernah bisa bercerita tentang betapa cepatnya pertandingan ini ditentukan. Dua gol dalam 13 menit pertama. Selebihnya, tuan rumah hanya perlu bertahan, mengatur ritme, dan menunggu peluit panjang. 62.827 penonton memadati stadion, menciptakan atmosfer yang membuat bulu kuduk berdiri.
Ledakan di 13 Menit Pertama
Pertandingan baru berjalan 11 menit ketika Hammam Al-Hammami membuka keunggulan. Berawal dari sepak pojok Saleh Abu Al-Shamat yang gagal diantisipasi sempurna oleh pertahanan UEA, bola jatuh ke kaki Al-Hammami di tepi kotak penalti. Winger Al-Shabab itu melepaskan tembakan yang membentur shin Bruno dan mengecoh kiper Khaled Eisa.
Stadion meledak. Tapi tuan rumah belum puas.
Tiga menit berselang, Firas Al-Buraikan menggandakan keunggulan. Serangan balik cepat dimulai dari Moteb Al-Harbi, diteruskan Al-Hammami, lalu Nasser Al-Dawsari mengirim umpan terobosan sempurna. Al-Buraikan, yang berlari tanpa pengawalan, menyelesaikan peluang itu dengan tembakan mendatar kaki kiri.
Dua gol. Tiga belas menit. Pertandingan praktis sudah ditentukan.
UEA Mencoba Bangkit, Tapi Tiang Gawang dan VAR Jadi Penghalang
UEA tidak tinggal diam. Pelatih Zlatko Dalic, yang baru menangani tim ini setelah meninggalkan Kroasia, langsung mengubah formasi menjadi 4-1-4-1. Nicolas Gimenez ditarik lebih dalam, dan perubahan itu nyaris membuahkan hasil pada menit ke-23. Mamadou Coulibaly melepaskan umpan terobosan, Gimenez berlari sendirian, tapi tembakannya membentur tiang gawang
Momen paling kontroversial datang pada menit ke-39. UEA mendapat hadiah penalti setelah Bruno dilanggar Hassan Al-Tambakti di dalam kotak penalti. Gimenez, yang ingat betul kegagalannya di semifinal melawan Oman, bersiap mengeksekusi. Tapi wasit menghentikan permainan. VAR meninjau ulang, dan penalti itu dibatalkan
Itu adalah pukulan telak bagi mental UEA. Mereka sudah mendapat jalan untuk kembali ke pertandingan, tapi jalan itu ditutup begitu saja.
Babak Kedua: Bertahan dengan Disiplin
Memasuki babak kedua, Dalic memasukkan Ali Saleh untuk menambah daya gedor. Beberapa peluang tercipta, termasuk peluang Sultan Adil yang berhasil digagalkan kiper Mohammed Al-Owais. Tapi Arab Saudi bertahan dengan disiplin. Lini belakang yang dikomandoi Al-Tambakti tampil rapat, dan setiap bola yang masuk ke kotak penalti selalu berhasil dihalau.
Pelatih Arab Saudi, yang namanya jarang disebut dalam laporan-laporan awal, memilih pendekatan pragmatis. Setelah unggul dua gol, ia menurunkan tempo, memperkuat lini tengah, dan mengandalkan serangan balik. Strategi itu berhasil. UEA terus menggempur, tapi tidak pernah benar-benar menemukan celah.
Sejarah yang Tertulis di Jeddah
Kemenangan ini bukan sekadar trofi. Ini adalah gelar keempat Arab Saudi dalam sejarah Piala Teluk, menyamai Irak sebagai tim tersukses kedua setelah Kuwait yang mengoleksi 10 gelar. Yang lebih penting lagi, ini adalah gelar pertama sejak 2003/04. Penantian 22 tahun yang panjang.
Bagi UEA, kekalahan ini melanjutkan sebuah ironi sejarah yang pahit. Ini adalah kali kelima mereka gagal meraih kemenangan di edisi Piala Teluk yang digelar di Arab Saudi. Dari empat edisi sebelumnya, UEA kalah tiga kali dan imbang sekali. Malam itu, mereka kembali pulang dengan tangan hampa.
Sorotan pada Hammam Al-Hammami
Jika ada satu nama yang paling bersinar malam itu, itu adalah Hammam Al-Hammami. Gol pembuka dan assist untuk gol kedua membuatnya menjadi arsitek kemenangan Arab Saudi. Winger berusia 24 tahun itu tampil sebagai pengganti yang layak bagi Salem Al-Dawsari, yang karier internasionalnya mulai memasuki senja.
Al-Hammami bukan nama baru di sepak bola Arab Saudi. Ia sudah menunjukkan kualitasnya di level klub bersama Al-Shabab. Tapi malam itu, di hadapan lebih dari 62 ribu pendukung sendiri, ia membuktikan bahwa ia siap menjadi wajah baru Green Falcons.
Apa Selanjutnya?
Trofi ini menjadi modal berharga bagi Arab Saudi menjelang Piala Asia AFC 2027, yang akan digelar di negara mereka sendiri dalam tiga bulan lagi. Kemenangan di Piala Teluk memberi kepercayaan diri, momentum, dan yang paling penting, pengalaman bertanding di bawah tekanan turnamen besar.
Bagi UEA, ini adalah pukulan yang harus segera dilupakan. Dalic punya waktu tiga bulan untuk membenahi tim sebelum Piala Asia dimulai. Kekalahan di Jeddah harus menjadi pelajaran, bukan trauma.
Malam itu, Jeddah berpesta. Trofi Piala Teluk kembali ke Arab Saudi setelah 22 tahun. Dan bagi para pendukung yang memadati King Abdullah Sports City, penantian itu terasa lebih manis karena datang di rumah sendiri.