Dari Idola ke Bahan Meme: Reaksi Publik Portugal atas Kepergian Ronaldo

Meme viral tentang kepergian Cristiano Ronaldo dari Timnas Portugal

Dari Idola ke Bahan Meme: Reaksi Publik Portugal atas Kepergian Ronaldo

Ada pepatah lama yang mengatakan bahwa di Portugal, sepak bola adalah agama, dan Cristiano Ronaldo adalah dewa. Tapi dewa pun bisa jatuh. Dan ketika ia jatuh, internet tidak pernah memberi ampun.

Kepergian Ronaldo dari kamp latihan Timnas Portugal pada 30 September 2026 memicu gelombang reaksi yang luar biasa di media sosial. Dalam hitungan jam, kapten Portugal yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai ikon yang tak tersentuh, berubah menjadi bahan tertawaan. Meme-meme bermunculan, dan beberapa di antaranya benar-benar kejam.

“Cristiano, Tu? Finish”

Salah satu meme paling viral adalah gambar Jorge Jesus memegang botol deterjen merek Finish dengan wajah Ronaldo terpampang di labelnya. Tulisan di bawahnya: “Cristiano, tu? Finish.” Ini adalah plesetan dari pernyataan terkenal Jesus saat memperkenalkan diri sebagai pelatih Timnas Portugal pada Juli 2026. Saat itu, Jesus menceritakan bagaimana ia pernah berkata kepada Neymar di Al Hilal: “Tú, finish” sebuah kalimat yang ia gunakan untuk menegaskan bahwa ia tidak akan membiarkan pemain manapun melampaui batas.

Kini, kalimat itu dipakai untuk mengejek Ronaldo. Jesus dianggap telah “menghabisi” karier internasional Ronaldo dengan sikap tegasnya.

Jornal de Notícias, salah satu media terbesar Portugal, membuat judul yang cerdas: “Del capitão Jesus al detergente Finish: internet no perdona el adiós de Ronaldo.” Media-media lain seperti A Bola dan O Jogo juga membuat galeri meme yang menyoroti kepergian Ronaldo. Dalam beberapa jam, Ronaldo berubah dari ikon yang tak tersentuh menjadi bintang meme.

“30 September Selalu, Ronaldismo Tidak Lagi”

Yang lebih menusuk, sebagian penggemar Portugal mulai mengganti slogan-slogan yang dulu mereka gunakan untuk mendukung Ronaldo. Slogan “30 September selalu” muncul sebagai parodi dari “25 de Abril selalu,” merujuk pada Revolusi Anyelir 1974 yang mengakhiri kediktatoran di Portugal.

Ada juga yang menulis “Ronaldismo nunca mais” “Ronaldisme tidak akan pernah lagi.” Ini adalah pukulan yang menyakitkan bagi Ronaldo, yang selama bertahun-tahun menjadi simbol kebanggaan nasional. Kini, sebagian penggemar justru merayakan kepergiannya sebagai pembebasan.

Bahkan merek kondom Control ikut-ikutan. Mereka mengunggah pesan di Instagram dengan latar belakang biru dan tulisan putih: “Que calientes no significa que vayas a entrar.” Artinya: “Panas saja tidak berarti kamu akan masuk.” Ini adalah sindiran langsung kepada Ronaldo yang sudah melakukan pemanasan selama 30 menit tapi tidak kunjung dimasukkan ke lapangan.

Kritik dari Komentator

Reaksi tidak hanya datang dalam bentuk meme. Sofia Oliveira, komentator CNN Portugal, memberikan kritik tajam terhadap sikap Ronaldo. Menurutnya, seorang kapten seharusnya menjadi figur yang menyatukan kelompok, bukan yang justru memecah belah.

“Seorang kapten adalah orang yang menambah nilai bagi kelompok karena memiliki kedewasaan emosional yang lebih besar,” kata Oliveira. “Dalam kasus Ronaldo, ia telah menunjukkan bahwa ia tidak tahu bagaimana menangani hal-hal seperti ini dengan baik. Mungkin ia tidak bisa lagi membawa ban kapten.”

Kritik ini menyentuh inti persoalan. Ronaldo selalu dianggap sebagai pemimpin, tapi kepemimpinannya kini dipertanyakan. Ketika timnya sedang berjuang, ia justru memilih pergi. Ketika pelatihnya membuat keputusan yang tidak ia sukai, ia bereaksi dengan cara yang dianggap tidak proporsional.

Apakah Ini Akhir dari Ronaldismo?

Yang menarik, tidak semua penggemar Portugal menyerang Ronaldo. Ada juga yang tetap membelanya. Mereka melihat kepergiannya sebagai bentuk protes yang sah terhadap perlakuan yang tidak adil. Bagi mereka, Ronaldo adalah legenda yang berhak mendapatkan penghormatan, bukan bangku cadangan tanpa penjelasan.

Tapi di internet, suara yang paling keras selalu yang paling terdengar. Dan saat ini, suara yang paling keras adalah suara mereka yang menertawakan Ronaldo. Apakah ini akhir dari “Ronaldismo” di Portugal? Mungkin tidak sepenuhnya. Tapi ini adalah momen di mana citra Ronaldo berubah. Ia bukan lagi dewa yang tak tersentuh. Ia adalah manusia yang bisa salah, yang bisa marah, dan yang bisa menjadi bahan lelucon.

Dan bagi seorang yang selama 25 tahun selalu berada di puncak, jatuh ke bumi mungkin terasa lebih menyakitkan daripada kalah di final.

← Sebelumnya Cristiano Ronaldo Isyaratkan Pensiun: "Ini Mungkin Musim Terakhir Saya" Selanjutnya → Lahan Sawah Dilindungi Bikin Rumah Subsidi Sulit Dibangun, Pengembang Gigit Jari
Avatar photo
Tentang Nurriyan Firmansyah

Berlatar belakang IT dan technical support, menulis tutorial HP, aplikasi, dan alat AI yang dicoba langsung sebelum dipublikasikan.

Tinggalkan komentar